BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Saturday , November 25 2017
Home / Human Development / Arus Balik, Segala Kemegahan Nusantara Sebagai Kesatuan Maritim
Pram

Arus Balik, Segala Kemegahan Nusantara Sebagai Kesatuan Maritim

IDev, Jakarta - Arus Balik adalah suatu karya besar, hasil dari studi sejarah Nusantara yang dilakukan oleh Pramoedya sebelum ditahan pada tahun 1965. Terpaksa dia menulis hasil risetnya di Pulau Buru (1969-1979) tanpa membawa sebarispun catatannya. Yang dihasilkan bukanlah tesis sejarah, tetapi novel sejarah.

Arus balik mungkin merupakan novel pertama dalam khazanah sastra Indonesia modern yang mengisahkan Nusantara dalam segala kemegahannya sebagai kesatuan maritim, sebagai kekuatan bahari yang jaya.

Bagi Pramoedya, kekuatan citra bahasa Indonesia, berikut segenap wawasan falsafah dan estetiknya tertempa dan berkembang berkat wawasan kelautannya yang berwatak luas menembus kedangkalan dan kekerdilan. Sebagaimana juga kejayaan persatuan dan kesatuan Indonesia dilahirkan oleh gelora kemaritiman. Sebaliknya, kawasan-kawasan pedalaman agraris mengungkung wawasan berpikir, cenderung membentuk watak kerdil dan kemunafikan, akibat tiadanya sentuhan gemuruh gelombang lautan.

Maka benar sekali kata Pramoedya, Indonesia tak habis-habisnya dirundung masalah integrasi dan tersendat perkembangannya. Indonesia sebagai kekuatan maritim, sejak merdeka justru selalu diatur oleh kekuatan angkatan darat dengan watak khasnya yang bukan saja tak kenal, malah meminggirkan wawasan kemaritiman.

Arus balik adalah suatu epos pasca kejayaan Majapahit pada saat arus zaman membalik. Kekuasaan di laut berubah menjadi kekuasaan darat yang mengkerut di pedalaman. Kemuliaan menukik kedalamam kemerosotan, kejayaan berubah menjadi kekalahan, kecemerlangan cendekia berubah menjadi kedunguan dalam penalaran, kesatuan dan persatuan berubah menjadi perpecahan yang memandulkan segala kegiatan.

“Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal besar dibuat oleh kerajaan besar, kapal kecil oleh kerajaan kecil, menyebabkan arus tak bergerak lagi dari selatan ke utara”.

Pramoedya bukan menangisi kebesaran masa lalu, tidak mendukakan kejayaan purbakala, tetapi dia bernostalgi dengan masa depan yang cerah. Baginya sejarah merupakan cermin paling jernih, referensi terpercaya untuk suatu perubahan, guna membangun masa depan yang lebih baik. (RSP)

The following two tabs change content below.
Indonesia Development Magazine

About Redaksi

Indonesia Development Magazine

Check Also

kapal

ISLA-UH MENYESALKAN RUSAKNYA TERUMBU KARANG RAJA AMPAT OLEH KAPAL PESIAR INGGRIS

IDev, Jakarta - Raja Ampat menjadi salah satu wilayah perairan di Timur Indonesia yang menyimpan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>