BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Thursday , September 21 2017
Home / Tourism Development / Pesona Alam dan Religi Goa Batu Cermin
SONY DSC

Pesona Alam dan Religi Goa Batu Cermin

IDev, Jakarta - Mendengar kata Labuan Bajo, yang terlintas dibenak pastinya Komodo, pantai dan panorama lautnya yang menawan. Tak salah memang. Dunia bahkan mengakuinya sebagai “New Seven Wonders of Nature”.

Daerah ini, memiliki keberagaman potensi wisata selain pantai, pulau dan laut. Dengan kontur dataran tinggi yang memiliki ciri khas hutan, tentunya banyak atraksi wisata yang ditawarkan, seperti air terjun ataupun goa.

Di Manggarai Barat, khususnya di Labuan Bajo, banyak terdapat Goa alam. Salah satunya, yaitu Goa Batu Cermin. Goa ini berjarak sekitar 4 km dari Labuan Bajo dan memakan waktu perjalanan kurang dari 30 menit dengan menggunakan mobil atau motor.

Theodore Verhoven, seorang Misionaris sekaligus arkeolog berkebangsaan Belanda yang menemukan goa ini pertama kali pada tahun 1951. Goa ini diapit oleh hutan yang juga terdapat fauna seperti burung-burung khas kawasan timur, kera ekor panjang bahkan terkadang babi hutan.

Waktu yang paling tepat saat mengunjungi goa ini adalah saat pagi menjelang siang atau saat matahari bersinar dengan teriknya. Matahari akan masuk melalui sela-sela batuan di atas goa kemudian memantul di batu yang berada di dalam goa dan menimbulkan cahaya tersendiri yang membuat batuan di goa mengkilap. Itulah alasan, mengapa goa ini dinamakan batu cermin.

Kirlapan cahaya yang terpantul dari batuan di dalam goa berasal dari partikel garam yang terkandung. Untuk melihat fenomena ini, wisatawan harus masuk sekitar 20 meter bersempit-sempitan ke dalam goa yang memiliki total kedalaman panjang hingga 200 meter. Saat hujan, goa akan tergenang air yang memantulkan cahaya. Udara di dalam goa sendiri cukup sejuk lembap.

Pemandangan yang spesial terdapat di dalam goa adalah adanya fosil beberapa hewan laut. Keberadaan fosil coral, penyu, ikan dan kerang disertai adanya partikel garam yang ada di dinding goa inilah yang menjadi dugaan kuat Theodore Vervoven, menyimpulkan bahwa dahulu kala Pulau Flores letaknya berada di bawah permukaan laut.

Jejeran stalagtit dan stalagmit yang berkilau, menyuguhkan pemandangan mengagumkan. Keberadaan batu putih panjang yang berada tepat dekat dengan jatuhnya sinar matahari, menambah pesona religi goa ini. Masyarakat Manggarai Barat yang sebagian besar beragama Katolik menyebutnya, Batu Bunda Maria. Bentuknya memang mirip dengan patung Bunda Maria yang terlihat berkilau disinari cahaya matahari. (RSP)

The following two tabs change content below.
Indonesia Development Magazine

About Redaksi

Indonesia Development Magazine

Check Also

ISTIMEWA

Alam, Budaya dan Manusia, Kekuatan Pariwisata Berkelanjutan

EDISI APRIL 2015 – Indonesia salah satu Negara yang memiliki keanekaragaman hayati dan non hayati ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>