BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Monday , September 25 2017
Home / Infrastructur / Menyambut Era Ekonomi Pasca Minyak, Indonesia Belum Siap
energi

Menyambut Era Ekonomi Pasca Minyak, Indonesia Belum Siap

IDEV, Jakarta - Stablilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa  tahun terakhir, tidak terlepas dari dukungan sektor industri di berbagai bidang. Pemerintah melalui skema Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merancang perkembangan ekonomi secara merata. Namun, sumbangan di sektor industri dalam Gross Domestic Bruto (GDP) Nasional masih di angka 21%. Padahal, sektor industri ini ditargetkan melampaui angka 30% pada tahun 2035 mendatang.

Untuk mencapai target tersebut, sektor industri perlu didorong lebih kuat. Sebab, target itu harus terpenuhi dalam 20 tahun kedepan. Prasyarat pertumbuhan industri adalah adanya infrastruktur khususnya paling utama adalah energi. Semakin besar dan berkembang industri maka kebutuhan energinya juga semakin besar. Salah satu infrastruktur paling utama yang harus ada adalah ketersediaan energi, yaitu listrik.

Hal ini juga yang diamanatkan dalam Undang-Undang Perindustrian No 3 tahun 2014, yaitu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah wajib menyediakan energi bagi industri, baik kecil maupun besar.

Saat ini, konsumsi energi per kapital di Indonesia menurut data Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia masih di angka 857,29 kg ekuivalen minyak. Sangat jauh dibandingkan negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Singapura. Indonesia menjadi negara terbesar dalam kebutuhan energi di Asia Tenggara mencapai 44% dari total kebutuhan energi di kawasan tersebut disusul Malaysia sebesar 23% dan Thailand 20%.

Data Asean Center for Energy juga mengungkap bahwa energi fosil diperkirakan akan mendominasi permintaan energi di kawasan tersebut mencapai 80% pada 2030. Sektor industri diperkirakan tetap mendominasi pertumbuhan permintaan energi fosil tersebut dengan penaikan sekitar 2,7% per tahun hingga 2035 mendatang.

Saat ini, kontribusi energi fosil mencapai 94,6% dari total kebutuhan/konsumsi energi nasional sebanyak 1.357 juta SBM, terdiri dari minyak sebesar 44,0%, gas alam 21,9%, dan batubara 28,7%. Sedangkan sisanya sekitar 5,4% dipasok dari energi baru dan terbarukan (EBT).

Energi fosil yang berasal dari sumber-sumber energi yang tidak terbarukan persediaannya semakin berkurang. Sumber energi ini sifatnya terbatas dan terus menipis dengan tingkat yang cepat. Untuk itulah, energi terbarukan mutlak untuk dipersiapkan sedini mungkin, sebagai alternatif pemakaian energi di masa depan. Apalagi, para ahli yang didukung oleh PBB, telah mengeluarkan kesepakatan untuk menghapus secara bertahap penggunaan energi fosil sampai tahun 2100.

Pengembangan dan pemakaian energi terbarukan merupakan salah satu kebutuhan penting bagi negara-negara yang ingin terhindar dari krisis energi dimasa depan, hal ini juga merupakan tolak ukur keberhasilan suatu negara dalam mengelola penggunaan energi di negaranya. Contohnya saja negara raksasa seperti Amerika Serikat, negara tersebut menaruh perhatian yang besar kepada pengembangan dan penggunaan energi terbarukan baik itu digunakan oleh masyarakat, perusahaan maupun industri berskala besar. Bahkan, Arab Saudi sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia, telah fokus untuk pengembangan energi terbarukan menyambut era ekonomi pasca minyak.

Indonesia memiliki banyak sumber alam yang bisa dijadikan sebagai penghasil energi sebagai pemenuhan kebutuhan.  Diantaranya, biofuel, biomassa, energi panas bumi, energi air, energi angin, energi matahari, energi gelombang laut, energi pasang surut, dll.

Dari berbagai sumber energi terbarukan yang tersedia, baru energi air yang banyak dimanfaatkan. Jumlah pembangkit listrik bersumber dari energi panas bumi, angin, dan matahari pun masih bisa dihitung dengan jari, dengan kapasitas energi yang sangat kecil. Apalagi sumber energi yang berasal dari laut, meski pun potensinya sangat besar, nyatanya belum satupun yang berhasil dikembangkan. Era ekonomi pasca minyak yang telah menanti di depan, Indonesia mestinya telah menyiapkan diri. [RSP]

The following two tabs change content below.
Indonesia Development Magazine

About Redaksi

Indonesia Development Magazine

Check Also

infrastruktur

Peran Infrastuktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

IDev, Jakarta - Infrastruktur di setiap negara merupakan hal yang sangat penting guna meningkatkan kesejahteraan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>