BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Saturday , November 25 2017
Home / idev / Laut dan Pulau Indonesia Tidak Seindah Maladewa?
pulau-pulau-kecil

Laut dan Pulau Indonesia Tidak Seindah Maladewa?

NOVEMBER 2015 - Maladewa merupakan negara kecil yang memiliki sekitar 1.191 pulau kecil-kecil yang tersebar di Samudra Hindia, dengan penduduk sekitar 250 ribu jiwa. Pulaunya kecil-kecil tanpa penghuni, hanya lima pulau berpenghuni dan terbesar seluas dua kilometer persegi, di mana ibukota negara tersebut, yaitu Male.

Gugusan pulau di Maladewa selain kecil-kecil, juga dangkal dengan hamparan pasir di pantainya dominan putih, sehingga flora dan fauna maupun terumbu karang sekitar pantainya tampak terlihat cukup jelas.

Permasalahan yang dialami Maladewa pada saat itu adalah ingin bangkit dari bangsa yang miskin. Pada saat itu, para akademisi-akademisi maladewa mulai berpikir dengan mengadakan suatu kajian mengenai potensi yang mereka miliki. Negara kecil ini tidaklah subur dan sekaya Indonesia, namun karena sadar akan potensi wisata bahari yang mereka miliki. Mereka kemudian mulai mengembangkan dan mengoptimalkan wisata bahari dimulai sekitar tahun 1971-an, dengan dibuat “master plan” dengan sistem sewa. Investor menyewa dan boleh membangun fasilitas wisata di atas lautan sekitarnya, sementara daratannya yang mungil dibangun berbagai fasilitas penunjang.

Kini, penghasilan negara kecil ini setiap tahun sekitar 600 juta dolar AS, 70 % merupakan peran pariwisata bahari. Ini secara langsung maupun tidak langsung, berasal dari kehadiran sekitar 600 ribu wisatawan yang didominasi oleh asing setiap tahunnya. untuk ukuran negara kecil seperti Maladewa nominalnya tergolong cukup besar.

Bandingkan dengan Indonesia yang jumlah pulau yang jauh di atas Maladewa, plus sumber daya hayati pesisir dan lautan yang luar biasa seperti populasi ikan hias terbesar dunia, terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove dan berbagai bentang alam pesisir atau coastal landscape yang unik dan menakjubkan. Sungguh sebuah daya tarik sangat besar bagi wisatawan. Sayangnya, nilai yang diperoleh dari wisata bahari per tahun kita baru mencapai 2 juta dollar Amerika. Nilai tersebut jelas jauh dari maksimal, mengingat potensi ekonomi wisata bahari kita yang diperkirakan dapat mencapai 52.809,37 juta dollar Amerika per hektare.

Diantara sepuluh ekosistem terumbu karang terindah dan tarbaik di dunia, enam berada di tanah air yakni Raja Ampat, Wakatobi, Takabonerate, Bunaken, Karimun Jawa, dan Pulau Weh. Tidak dipungkiri lagi, kawasan pesisir dan laut Indonesia merupakan tempat ideal bagi seluruh jenis aktivitas pariwisata bahari.

Nilai yang diperoleh Indonesia tentu saja sangat kecil jika dilihat dari potensinya sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) terbesar di dunia dengan 17.504 pulau, serta panjang garis pantai 95.181 km (terpanjang setelah Kanada). Sebagai contoh Kabupaten Selayar yang memiliki Taman Nasional Takabonerate, yang diklaim sebagai karang atol terbesar ke tiga di dunia (sekitar 220. 000 km2) setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di kepulauan Moldiva.

Jika kita mampu mengembangkan potensi bahari, maka nilai ekonomi berupa perolehan devisa, sumbangan terhadap PDB, peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan sejumlah multiplier effects sangat besar. Sebagai perbandingan adalah Negara Bagian Queensland, Australia dengan panjang garis pantai hanya 2100 km dapat meraup devisa dari pariwisata bahari sebesar US$ 2,1 milyar pada tahun 2003. Demikian juga halnya dengan Malaysia, Thailand, Maladewa, Mauritius, Jamaica, dan Negara lainnya yang telah menikmati nilai ekonomi cukup besar dari pariwisata bahari. Sampai saat ini devisa dari sektor pariwisata bahari di Indonesia baru mencapai sekitar US 1 milyar per tahun.

Bandingkan dengan Maladewa misalnya yang hanya memiliki 99 pulau tapi penghasilannya dari sektor ini jauh lebih tinggi. Itu juga karena kebijakan dasarnya cukup tegas dan prospektif, yakni tenaga kerja asing dibatasi hanya sampai pada level manager, serta dengan target one island one resort.

Apakah laut dan pulau Indonesia tak seindah Maladewa? Tentu tidak, hanya saja Indonesia kalah dalam hal meningkatkan kinerja sektor periwisata bahari. Transportasi, pelayanan, promosi, dan informasi, harus secara terpadu diperkuat dan dikembangkan. Selain itu, sektor pariwisata bahari harus didukung oleh kebijakan politik maupun kebijakan ekonomi* [RSP].

The following two tabs change content below.
Indonesia Development Magazine

About Redaksi

Indonesia Development Magazine

Check Also

img20160929062754

Sanitasi Buruk, Gambaran Pesisir Indonesia

IDev, Jakarta - Sanitasi tidak terlepas dari pola hidup bersih dan sehat, dengan maksud mencegah manusia bersentuhan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>