BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Thursday , September 21 2017
Home / idev / Hembusan Angin Belanda dan Jeneponto
Kincir Angin Garam

Hembusan Angin Belanda dan Jeneponto

OKTOBER 2015 – Ingatan pertama tentang negeri Belanda adalah kincir angin. Hal itu memang benar adanya. Orang belanda telah sejak lama menggunakan kincir angin. Berdasarkan sejarah dan fakta yang ada, negeri Belanda dahulu merupakan daerah rawa yang banyak dilalui oleh sungai. Kondisi tanah yang cenderung berair ini mendorong orang belanda berpikir untuk bagaimana cara agar mereka dapat bertani dan hidup pada lahan-lahan yang kering.

Dari situlah timbul pembangunan tanggul untuk membatasi daerah yang basah dan daerah yang kering. Inovasi dilakukan juga terhadap bagaimana memperlakukan air yang banyak tersebut untuk dapat dipindahkan secara efektif ke daerah lain untuk menjaga tanah tetap kering. Hasilnya, terciptalah bentuk kincir angin yang berfungsi untuk memompa air yang banyak tadi untuk dikumpulkan pada tempat tertentu dan diperolehlah tanah yang kering. Selanjutnya, penggunaan kincir angin di Belanda terus berkembang yang mana dimanfaatkan sebagai pengirikan, memotong kayu, memompa air, memproduksi cat, kayu, kertas, sampai bahan pangan seperti roti dan mustard.

Dewasa ini, penggunaan kincir angin di Belanda telah memasuki era modern. Penggunaan tenaga angin tidak lagi banyak digunakan untuk memotong kayu misalnya sebagai keperluan pembangunan. Sebaliknya, tenaga angin tersebut lebih digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan energi listrik masyarakat Belanda modern. Penggunaan energi angin ini menyumbang sekitar 20 persen dari total konsumsi energi terbarukan di Belanda pada tahun 2010.

Penggunaan kincir angin untuk memproduksi energi listrik ini tidak hanya digunakan di darat saja (onshore) namun sejak tahun 2006 telah mulai diaplikasikan juga pada daerah-daerah lepas pantai (offshore).

Sampai dengan tahun 2015, negara Belanda mempunyai sekitar 246,8 MW pembangkit listrik tenaga angin atau mengokupansi sekitar 17% komposisi negara-negara Uni Eropa yang telah juga menggunakan tenaga angin sebagai pembangkit listrik. Tidak cukup berpuas diri pada keadaan ini, pemerintah Belanda menargetkan bahwa pada tahun 2020, sedikitnya 20 persen energi listrik yang dihasilkan adalah bersumber dari pembangkitan energi listrik menggunakan kincir-kincir angin tersebut. Sehingga untuk tahun 2015 ini, pemerintah Belanda berencana akan membangun beberapa lahan kincir angin dengan kapasitas sekitar 2.833,8 MW.

Kincir angin juga dapat kita temui di Indonesia, tidak perlu jauh-jauh ke Belanda. Hanya saja, kincir angin yang ada di Indonesia, mungkin tidak sebesar atau semoderen di Belanda. Di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, terdapat ratusan kincir angin. Hampir di sepanjang jalan di daerah pesisir Kabupaten Jeneponto. Kincir angin ini digunakan sebagai “mesin pompa” untuk mengairi tambak garam. Dengan memanfaatkan angin yang berhembus sepanjang hari, para petani garam mengisi air laut dari irigasi, masuk ke dalam meja-meja garam.

Perbedaan angin yang berhembus di Belanda dengan angin yang berhembus di Jeneponto adalah pemanfaatannya. Di belanda, angin telah dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Sedangkan di Jeneponto, angin masih belum dimanfaatkan dengan baik, dibiarkan “berhembus” begitu saja.

Kabupaten Jeneponto sangat ideal untuk dikembangkannya sumber energi terbarukan ini. Angin berhembus setiap saat. Malah, pembangkit listrik yang dibangun di Kabupaten Jeneponto lebih memilih menggunakan Batubara. Padahal, Kabupaten Jeneponto bukan penghasil Batubara.

Dalam aspek lingkungan hidup, dengan adanya pemanfaatan angin menjadi energi lain menggunakan kincir angin ini sangat ideal untuk dilakukan karena tidak menghasilkan polusi atau eksternalitas negatif. Dari setiap megawattt energi yang dihasilkan oleh kincir angin ini sebanding dengan  pengurangan emisi 0,8 -0,9 ton gas rumah kaca yang dihasilkan BBM dan Batubara per tahunnya.

Di Eropa, energi ini telah memenuhi kebutuhan listrik 35 juta rumah tangga. Selain itu juga, delapan puluh persen penduduk di daerah Eropa sangat mendukung  penggunaan sumber energi  yang dapat diperbaharui karena ramah lingkungan dan bebas dari polusi yang dapat merusak lingkungan. Hanya dengan memanfaatkan kondisi geografis eropa yang memiliki udara berupa angin sangat potensial sehingga pemanfaatannya dalam berbagai bidang aspek kehidupan sangat bermanfaat bagi banyak orang. Jika inovasi ini dikembangkan di Indonesia bukan tidak mungkin Indonesia bisa mengahemat BBM sebesar 0,75 kiloliter per tahun* [RSP].

The following two tabs change content below.
Indonesia Development Magazine

About Redaksi

Indonesia Development Magazine

Check Also

infrastruktur

Peran Infrastuktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

IDev, Jakarta - Infrastruktur di setiap negara merupakan hal yang sangat penting guna meningkatkan kesejahteraan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>