BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Saturday , November 25 2017
Home / Design Development / Garam Aristoteles, Plato, Hingga Raja Arungkeke Jeneponto
Garam Jeneponto

Garam Aristoteles, Plato, Hingga Raja Arungkeke Jeneponto

OKTOBER 2015 – Garam adalah bumbu masakan yang ditemukan hampir di semua peradaban. Diperkirakan awal munculnya adalah sejak jaman neolitikum. Reay Tannahill dalam bukunya Food in History menyebutkan bahwa produksi garam sudah dilakukan manusia pada jaman neolitikum yaitu fase atau tingkat kebudayaan pada zaman prasejarah yang mempunyai ciri-ciri berupa unsur kebudayaan, seperti peralatan dari batu yang diasah, pertanian menetap, peternakan, dan pembuatan tembikar.

Tapi penggunaan ‘rasa asin’ pada makanan sudah dilakukan manusia seribu abad sebelum manusia memproduksinya pada jaman neolitikum tersebut. Sebelum ditemukan cara memproduksi garam, manusia memberikan rasa asin pada makanannya dengan cara diantaranya dengan menggunakan air laut, akan tetapi rasa tersebut akan segera hilang saat selesai dimasak.

Garam mulai diproduksi secara masal diperkirakan dilakukan pada milenium pertama sebelum Masehi, di mana pada saat itu sudah berdiri pemerintahan Administratif di China, Dinasti Ptolemy di Mesir dan Dinasti Sekulus di Persia.

Garam laut disebutkan dalam naskah umat Buddha, Vinaya Pitaka yang ditulis pada abad ke 5 SM. Prinsip produksi garam dapur adalah menguapkan air laut. Di daerah yang hangat dan kering, proses ini dapat dilakukan sepenuhnya dengan mengandalkan cahaya matahari. Pada masa lalu, tambak garam dibangun di kawasan pantai yang mudah dibentuk, dan dekat dengan aktivitas ekonomi yang membutuhkan garam (misal pembuatan keju dan pengawetan daging). Sehingga tambak garam terintegrasi dengan kawasan peternakan.

Sebegitu pentingnya garam dalam kehidupan masyarakat yunani kuno, Plato menggambarkan garam sebagai “sebuah material yang dicintai dewa”, Aristoteles menulis bahwa garam adalah hadiah musim semi yang berasal dari dewa dan Homer menyebut garam sebagai “wahyu Ilahi”.

Pada masa Romawi Kuno, harga garam sangat mahal. Oleh karena mahalnya garam pada masa itu lalu dipakai untuk membayar gaji para pekerja dan prajurit dengan salarium (garam). Istilah salarium (Latin) yang maksudnya ‘garam’ itu dipakai untuk gaji yang kemudian diambil dalam bahasa Inggris salary. Lucunya garam dalam bahasa Inggris kuno adalah ‘sealt’. Bila kita hilangkan dua huruf terakhir –lt, kita akan dapatkan kata ‘sea’ yang artinya laut. Mungkin juga maksudnya begitu karena air laut rasanya asin dan garam berasal dari laut.

Di Nusantara, beberapa catatan menyebutkan, disamping gula kelapa, asam, terasi, ikan asin, bawang merah dan bermacam-macam bumbu, garam merupakan salah satu komoditas makanan dan bumbu-bumbuan yang dibawa para pedagang yang lebih profesional serta memiliki jangkauan yang lebih luas di Jawa. Hal ini dapat ditemukan dalam prasasti abad 9 – 10 Masehi. Dalam hal ini garam yang diperoleh dengan cara kuno erat kaitannya dengan proses pengawetan ikan (ikan asin) pada masa itu Monopoli pemerintah kolonial tidak hanya di Jawa dan Madura, monopoli meluas ke beberapa distrik di Sumatra dan hampir seluruh Kalimantan. Sementara itu di barat daya Sulawesi pembuatan garam masih berada di tangan pihak swasta (Handbook of the Netherlands Indies 1930:121). Pada jaman Jepang ketika produksi garam di Pulau Jawa berhenti, penduduk Sumatra ramai-ramai merebus air laut untuk mendapatkan garam. Pada 1957 monopoli garam dihapus. Garam negara pun berubah menjadi perusahaan negara pada 1960.

Daerah penghasil garam di Indonesia yang juga memiliki sejarah yang menarik adalah Kabupaten Jeneponto. Sebagian besar masyarakat yang berada di pesisir Kabupaten Jeneponto menggantungkan hidupnya pada garam. Salah satu Desa di Kabupaten Jeneponto yang menjadi pengahasil garam adalah Desa Arungkeke.

Proses masuknya garam di desa Arungkeke, Kecamatan Arungkeke ini sekitar 60 tahun yang lalu. Teknik pertambakan garam masuk ke desa Arungkeke sejak zaman penjajahan jepang sekitar 60 tahun yang lalu. Pada saat itu, mereka melihat terjadi kristalisasi (proses mengerasnya air garam), secara alami garam terkumpul di pinggiran danau. Mereka kemudian memanfaatkannya dengan membuatnya menjadi petak-petakan supaya garam yang dihasilkannya lebih banyak.

Sebagian besar tambak garam di desa ini berasal dari raja pertama mereka yaitu Raja Arungkeke lalu di wariskannya kepada para anak dan cucunya untuk di manfaatkan sebagai sumber kehidupan hingga sekarang. Dahulu, keluarga yang berasal dari karaeng juga ikut dalam mengerjakan prosesnya namun seiring berubahnya zaman maka kebanyakan dari mereka lebih memilih mengejar cita-cita dengan menempuh pendidikan tinggi* [RSP]

 

The following two tabs change content below.
Indonesia Development Magazine

About Redaksi

Indonesia Development Magazine

Check Also

pendidikan-anak-suku-bajo-sulsel1-620x330

Pendidikan Juga Untuk Penduduk Pulau-Pulau Kecil

IDev, Jakarta - Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 pasal 31: (1) Setiap warga negara berhak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>