BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Thursday , November 23 2017
Home / Human Development / Alam, Manusia dan Garam
Masyarakat Garam

Alam, Manusia dan Garam

OKTOBER 2015 – Sepanjang pesisir Kabupaten Jeneponto, sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani garam. Dalam proses pembuatan garam, sepenuhnya bergantung pada alam karena masih menggunakan cara tradisional.

Untuk proses pembuatan garam dengan penguapan membutuhkan paparan sinar matahari. Proses terbentuknya kristal garam adalah proses penguapan pada tambak garam yang disebabkan oleh sinar panas matahari, sehinga untuk mendapatkan produksi garam yang bagus sebaiknya lokasi tambak garam pada satu wilayah dipilih dengan musim kemarau yang panjang atau lebih dari 5 bulan dalam satu tahunnya. Karena bila satu wilayah tambak garam curah hujannya terlalu tinggi atau musim penghujannya panjang akan didapat produksi garam yang rendah atau bisa dikatakan wilayah tersebut tidak cocok untuk lokasi tambak garam.

Biasanya para petani garam membuat garam dengan metode petakan–petakan untuk penguapan, untuk mendapatkan hasil garam yang baik dengan kristal yang besar, petani garam biasanya secara langsung menguapkan air laut yang dialirkan pada petakan – petakan untuk menghasilkan garam.

Dalam proses pemberian air laut pada penyaringan di tambak sangat berpengaruh terhadap kualitas garamnya, keadaan pasang surutnya air laut pun dapat mempengaruhinya. Hasil panen sangat bergantung dengan pasangnya air laut. Hal ini terkait dengan volume air laut yang masuk ke dalam irigasi tambak. Pasang surut laut pada lokasi tambak garam jangan melebihi dari 1 meter karena akan sulit mendapatkan stok air laut yang akan ditampung pada bozem.

Di area tambak garam angin sangat berpengaruh terhadap proses terbentuknya kristal garam disamping penyinaran panas matahari, karena angin mampu membawa uap air baik pada siang hari maupun malam hari.

Hal menarik dari para petani garam di Kabupaten Jeneponto adalah kreativitasnya. Hembusan angin yang kencang merupakan energi sangat penting bagi mereka. Tenaga angin itu mereka gunakan untuk memutar kincir. Kemudian putaran kincir itu mereka gunakan untuk memompa air laut yang dialirkan melalui parit ke meja-meja garam.

Kincir angin dihubungkan dengan pompa. Tuas pompa berupa piston yang dihubungkan ke roda kincir. putaran kincir akan menggerakan piston naik turun untuk memompa air. Dengan pompa yang digerakan oleh kincir angin tersebut mereka bisa menghemat tenaga dan uang. Tak perlu mengunakan tenaga manusia maupun pompa berbahan bakar minyak untuk menaikkan air laut* [RSP]

The following two tabs change content below.
Indonesia Development Magazine

About Redaksi

Indonesia Development Magazine

Check Also

img-20161126-wa0040

Peran ISLA-UH dalam Pembangunan Maritim Indonesia Timur

IDev, Jakarta –  Ikatan Sarjana Kelautan Universitas Hasanuddin (ISLA-UH) akan menggelar musyawarah besar di Bogor, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>