BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Saturday , November 25 2017
Home / idev / Pelabuhan Indonesia
Pelabuhan Indonesia

Pelabuhan Indonesia

EDISI MEI 2015 – Sebagai negara kepulauan, peranan pelabuhan sangat vital dalam perekonomian Indonesia. Kehadiran pelabuhan yang memadai berperan besar dalam menunjang mobilitas barang dan manusia di negeri ini. Pelabuhan menjadi sarana paling penting untuk menghubungkan antar pulau maupun antar negara.

Perkembangan ekonomi dunia yang semakin cepat dan akan diterapkannya skema kerja sama ASEAN pada 2015, menuntut peran pelabuhan yang semakin besar. Bukan saja dibutuhkan lahan pelabuhan yang luas, dermaga yang panjang dan alur yang cukup dalam, namun tantangan kedepan bagaimana mengefektifkan dan mengefisienkan pelabuhan Indonesia sehingga memiliki daya saing.

Dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan. Ribuan pulau berjajar dari Sabang sampai Merauke. Keuntungan yang lain, yaitu letak geografis Indonesia yang berada di persilangan rute perdagangan dunia. Potensi ini apabila dioptimalkan, akan menjadi sumber devisa negara yang sangat besar.

Dengan posisi Indonesia yang dekat dengan persilangan rute perdagangan dunia, dilalui jalur pelayaran international timur-barat dan utara-selatan serta menganut konsep negara kepulauan, Indonesia harus mampu memainkan peranan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan regional.

Kapal-kapal yang datang dari Samudera Hindia dengan tujuan Asia Timur Jauh akan melintasi wilayah perairan Indonesia melalui Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Timor. Sebagian besar kapal akan melalui Selat Sunda dan Malaka karena jaraknya yang paling dekat. Kondisi ini jelas sangat menguntungkan bagi Indonesia, jika memiliki pelabuhan yang baik. Namun, pada kenyataannya pelabuhan Indonesia masih jauh tertinggal.

Data World Economic Forum dalam laporan ‘The Global Competitiveness Report 2011-2012′ menyebutkan, kualitas infrastruktur pelabuhan Indonesia buruk. Berada di peringkat ke-103. Dibanding negara anggota ASEAN lainnya, Indonesia jauh tertinggal. Malaysia saja menempati urutan ke-15, Singapura peringkat pertama, dan Thailand ke-47. Rendahnya rating pelabuhan Indonesia tidak terlepas akibat pelayanan bongkar muat barang yang tidak efektif dan efisien. Padahal, pelabuhan sebagai image perekonomian negara di mata dunia internasional.

Indonesia juga kalah dalam produktivitas bongkar muat, kondisi kongesti yang parah, dan pengurusan dokumen kepabeanan yang lama. Global Competitiveness Report 2010-2011 menyebutkan, kualitas pelabuhan di Indonesia hanya bernilai 3,6, jauh di bawah Singapura yang nilainya 6,8 dan Malaysia 5,6.

Para pengusaha pun sudah lama mengeluhkan buruknya fasilitas kepelabuhanan di Indonesia. Untuk bersandar dan bongkar muat, sebuah kapal harus antre berhari-hari menunggu giliran. Seringkali, waktu tunggu untuk berlabuh jauh lebih lama ketimbang waktu untuk berlayar. Melihat buruknya kondisi pelabuhan itu, tak heran bila investor enggan berinvestasi di bidang perkapalan. Akibatnya, distribusi barang antar pulau pun tersendat. Dampak lanjutannya, harga barang melonjak dan pembangunan ekonomi tersendat.

Untuk saat ini pelabuhan utama dari barang hasil ekspor bertumpu hanya pada Tanjung Priok saja. Namun, kualitas pelabuhan Tanjung Priok jika dibandingkan dengan Port of Singapore Authority, masih berada cukup jauh di bawah. Kekurangan ini ditunjukkan dari mahalnya biaya yang dikenakan kepada instansi atau individu yang menggunakan sarana. Di samping itu, tingkat pelayanan, lingkungan, serta kapasitas yang disediakan juga menunjukkan bahwa kualitas Tanjung Priok masih berada jauh di bawah Pelabuhan Singapura.

Di samping itu, tingkat pelayanan, lingkungan, serta kapasitas yang disediakan juga menunjukkan bahwa kualitas Tanjung Priok masih berada jauh di bawah Pelabuhan Singapura. Pelabuhan peti kemas JICT Tanjung Priok dikenal paling mahal dan tidak efisien dibandingkan negara-negara tetangga.

Pelabuhan Tanjung Priok rata-rata hanya mampu mengangkat 40 peti kemas per jam dengan biaya US$ 137. Sebaliknya Port Of Singapore Authority yang rata-rata mampu mengangkat lebih banyak yaitu sekitar 80 peti kemas dengan biaya yang dikenakan lebih murah yaitu sekitar US$ 120.

Untuk itu, menurut Kepala Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofyan Wanandi, paling sedikit Indonesia harus membangun tujuh pelabuhan baru dengan standar internasional. Hal itu bertujuan untuk mengurai arus lalu lintas barang yang masuk ke Indonesia.

Di area pelabuhan akan mendorong terbentuknya unit-unit usaha maupun dalam bentuk industri, yang nantinya akan memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar. Dengan adanya fasilitas yang memadai dan beroperasinya industri, maka akan ada penyerapan tenaga kerja didalamnya. Namun agar pengembangan Pelabuhan tidak menganggu kondisi perairan sekitar, maka wajib dilengkapi dengan AMDAL.

Mengubah sistem kepelabuhanan Indonesia menjadi jaringan yang modern dan efisien merupakan tantangan yang luar biasa kompleks. Pemerintah Indonesia tidak bisa memusatkan perhatian hanya pada perbaikan di satu bidang tertentu saja, karena memberdayakan kembali kepelabuhanan merupakan rencana multidimensi yang menuntut penanganan sejumlah masalah kebijakan yang fundamental dan saling terkait. [RSP]

The following two tabs change content below.
Indonesia Development Magazine

About Redaksi

Indonesia Development Magazine

Check Also

energi-indonesia

Edisi V – Energi Indonesia

Edisi V – Energi Indonesia The following two tabs change content below.BioLatest Posts Redaksi Indonesia ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>