BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Thursday , September 21 2017
Home / Design Development / Konstruksi Pembangunan Wilayah Kepulauan

Konstruksi Pembangunan Wilayah Kepulauan

EDISI MEI 2015 – Wilayah kepulauan merupakan suatu kesatuan yang dihubungkan oleh perairan laut, dengan komposisi sumberdaya alam potensial dan memilki interaksi antara sumberdaya manusia didalamnya. Wilayah kepulauan diyakini mampu menjamin keberlanjutan proses hidup dan kehidupan serta melahirkan ketergantungan yang saling berpengaruh dalam konteks pengguna sumberdaya alam dan alam itu sendiri. Pemanfaatan yang terintegrasi memberikan dorongan terhadap perkembangan wilayah kepulauan dalam mengelola potensi didalamnya. Sehingga keberlanjutan sumberdaya alam potensial tersebut sangat ditentukan oleh tujuan dan proses pemanfaatan yang berlangsung.

Paradigma pembangunan wilayah dalam rangka mengejar ketertinggalan dari negra-negara maju kadangkala terkendala dengan kondisi geografis. Dimana proses pembangunan tersebut membutuhkan tahapan waktu yang cukup lama, mulai dari assissment hingga pada tahapan implementasi. Ditambah lagi proses suplay produksi bahan mentah (dasar) yang perlu ditunjang oleh teknologi yang memadai. Tidak hanya itu, pembangunan suatu wilayah juga dipengaruhi kualitas sumberdaya manusia dengan kapasistas mampu berinovasi dan memilki pandangan yang produktif. Sehingga pembangunan terutama wilayah kepulauan menemukan kembali (reinventing) ‘ruh’ dengan pandangan yang lebih optimistik.

Potret pembangunan wilayah kepulauan dapat dilihat pada Wakatobi dimana merupakan Kawasan Taman Nasional Laut dan juga termasuk wilayah kabupaten. Kawasan ini memfokuskan pengembangan wilayahnya melalui sektor pariwisata sebagai heading sector. Prospek pengembangan potensi wisata selain keanekaragaman biota laut dan karakteristik topografi lautnya, kawasan ini memiliki potensi wisata sosial budaya. Disisi lain, perputaran ekonomi masyarakatnya cukup stabil dengan mengandalkan sektor perikanan dan perkebunan dengan skala pasar lokal. Namun, pada produksi perikanan seperti komoditi tuna cukup memberikan konstribusi pasar nasional namun hanya pada musim tertentu.

Hingga kini pemerintah Kabupaten Wakatobi masih terus gencar memperjuangkan wilayahnya dengan mengedepankan proses pemanfaatan yang berkelanjutan. Peran tersebut adalah konstribusi dan Colaboration Management oleh berbagaimacam nGO (non-Goverment Organisation) serta LSM lokal merokemendasikan program-program potensial. Namun demikian hal tersebut tidak lepas dari dukungan masyarakatnya sebagai pengguna sumberdaya alam diwilayah tersebut. Sehingga proses perencanaan, implementasi serta pengawasan dilakukan secara terpadu oleh berbagai macam kalangan. Dengan demikian pemanfaatan potensi sumberdaya yang sinergis memberikan konstribusi bagi perkembangan pembangaunan wilayah kepulauan.

Pada dasarnya proses pembangunan wilayah kepulauan selain melalui kajian-kajian produktif yang memberikan rekomendasi program dan kebijakan pengelolaan potensi sumberdaya seharusnya perlu:

  1. Dukungan dan kolaborasi pihak luar yang berpayung nGO atau LSM melalui kerja terpadu dan mekanisme kontrol dan evaluasi.
  2. Pelibatan sumberdaya manusia lokal demi mengakses isu-isu yang sifatnya kontemporer dalam ranah pengguna sumberdaya alam.
  3. Mempertimbangkan kebijakan skala nasional seperti RTRW Nasional, RPJP Nasional dan lain sebagianya.
  4. Merasionalisasikan kebijkan-kebijakan konvensional menjadi payung hukum yang dapat diimplementasikan secara tepat.

Sehingga, capaian visi dan misi pembangunan wilayah kepulauan sejalan dengan potensi SDM dan SDA wilayah tersebut. Peningkatan arus siklus ekonomi pembangunan akan dengan sendirinya berputar dengan poros leading sektor sebagai penggerak utama. Namun demikian, pembangunan wilayah kepulauan tidak luput dari paradigma yang pesimistik dan skeptimisme. Akan tetapi jika pandangan kondisi geografis dijadikan sebagai jembatan baru pembahuruan dan penghubung rantai pembangunan maka akan lebih menjamin keberhasilan pembangunan yang lebih strategis. Tentunya akan dijadikan sebagai pilot project pembangunan wilayah yang nantinya menjadi tombak penggerak pembangunan skala nasional. Potret wilayah kepulauan menjadi pembanding bagi wilayah-wilayah pesisir daratan lainnya yang seharusnya lebih meminimalisir kendala-kendala yang sifatnya geografis* [IJR].

The following two tabs change content below.
Indonesia Development Magazine

About Redaksi

Indonesia Development Magazine

Check Also

pendidikan-anak-suku-bajo-sulsel1-620x330

Pendidikan Juga Untuk Penduduk Pulau-Pulau Kecil

IDev, Jakarta - Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 pasal 31: (1) Setiap warga negara berhak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>